Hari ini begitu berharga. Hari ini, saya mendapata teguran manis dari sang Kuasa Pemilik cinta.
Begini ceritanya,
Sepulang dari ujian masuk perguruan tinggi negeri yang kabarnya merupakan perguruan tinggi negeri nomor satu di Indonesia, saya iseng pergi ke sebuah tempat rental buku, sekalian menumpang mushalla karena saya belum menunaikan salat zuhur. Kebetulan juga, saya sedang mencari sebuah buku novel best-seller karangan Habiburrahman El-Shirazy, ayat-ayat cinta, judulnya.
Alahmdulillah, saya berhasil menemukkan bukunya di antara deretan-deretan buku-buku lain. Niat awal, saya hanya ingin membacanya saja disana. Tapi, ternyata, kehendak hati menginginkan lain, saya ingin memilikinya.lagipula, kalau di hitung-hitung, jatuh nya lebih murah dan lebih bermanfaat jika saya menaruhnya di rak buku saya, karena bisa saya baca berulang-ulang dan bisa saya pamerkan pada anak cucu saya nanti.(hee..). maka, sayapun bertanya pada sang penjaga
Kebetulan, ternyata rental buku itu, seperti rental rental lainnya yang juga memberikan potongan harga alias diskon pada pembeli, meskipun bukan anggota. Saya pun mengingat-ingat sisa uang di kantong tas saya., rasa-rasanya masih cukup untuk membeli novel yang sudah saya taksir lama itu, untuk ongkos, rasanya bisa saya atur.
Saya tidak akan naik patas AC, naik metro mini biasa saja sampai blok M , paling hanya memakan ongkos Rp 2000,- setelah itu dilanjutkan lagi dengan metro mini lainnya sampai perapatan dekat rumah saya, dari situ saya bisa naik ojek, ongkos ojeknya kan bisa dibayar di rumah...( seperti yang biasa saya lakukan kalau kehabisan ongkos)
”Bagaimana, jadi mau beli bukunya?”, tanya sang penjaga.
Saya mengangguk, ” Iya, jadi...”, ujar saya.
Kocek-pun, saya keluarkan seharga buku tersebut. Dan tarra... novel best-seller itu kini ada di genggaman saya. Saya tersenyum puas dan memasukkannya kedalam tas biru kesayangan saya. Setelah setelah menunaikan salat zuhur di mushalla super kecil di rental buku tersebut, saya pamit melenggang pergi. Di depan rental buku itu, saya menunggu metro mini yang sudah saya rencankan, metro mini jurusan Blok M.
Menunggu dan menunggu.... lama sekali metro mini itu belum datang juga, mungkin udara panas serta kepala yang masih mumet akibat ujian tadi ditambah perut keroncongan dan mulut kering yang meronta-ronta membuat 1 menit serasa 1 jam. Ya, karena tidak sabar, saya pun menyetop metro mini jurusan lebak bulus. Salah satu alternatif jalan pulang saya adalah lewat lebak bulus, nanti dari terminal lebak bulus, saya tinggal naik mikrolet sampai perapatan dekat rumah saya. Maka, dengan berbekal uang rp 5000,- di saku, saya menyetop metromini jurusan lebak bulus itu. ini pertama kalinya saya pulang dengan metromini ini. Dilihat daribentuknya, saya kira ongkos yang akan dipungut oleh sang kondektur sama saja, 2000,-.saya pun duduk tenang. Novel baru saya keluarkan, tak lama, saya sudah mulai terhanyut dalam cerita.
Tiba saatnya sang kondektur memungut uang dari saku para penumpang, sesuai tarif.dengan PD, saya menyerahkan uang 2000 saya.
”Kurang neng, 1000 lagi...”, ujar kondektur.
Saya mengerutkan kening. Sang kondektur menunjuk ke arah depan. Tertempel di sana kerats putih bertuliskan: Tarif Rp 3000,-. Kali ini saya melongo.
Ahh... tidak apa apa, sepertiya masih cukup uang saya. Dari lebak bulus nanti tinggal naik mikrolet, paling Cuma 2000,.saya pun memberikan selembar uang rp 1000,- pada kondektur dan mulai kembali dalam bacaan saya. Setelah lelah membaca, saya kelelahan dan akhirnya tertidur, salah satu kebiasaan saya dalam perjalanan.
Saat terbangun, saya sudah berada di terminal lebak bulus, langsung saja saya tergopoh-gopoh turun darib metromini itu. sesuai rencana, saya naik mikrolet yang menuju perapatan dekat rumah saya. Dengan ongkos di saku nge pas, tinggal 2000. paling lebih 500, itupun recehan. Saat dalam perjalanan, saya kembali menghanyutkan diri saya dalam tulisan Habiburrahman El-Shirazi.
”Abis, abis... ”, teriak sang supir. Aku menengadah. Oh, sudah sampai ternyata, akupun turun. Tak lupa menyerahkan uang rp 2000, kepada pak supir yang duduk dimuka. Saat aku hendak meninggalkannya, sang supir berteriak, ” Darimana Neng ? ”, Nadanya marah.
”dari lebak bulus, bang”, Jawabku agak takut. Aku tidak tahu kenapa si supir marah.
”4 ribu neng!kurang nih...!” , ujar si supir masih dengan nada marahnya.
Aku melongo, terkejut bukan main,” 4 ribu??”
“ Ya iyalah, mana ada ongkos sejauh itu Cuma 2000!”
Aku diam, tanganku merogoh saku tasku, kosong tidak ada lagi lembaran uang meski hanya 1000, yang ada di saku hanya 2 keping uang 200-an dan sekeping uang rp 100. aku memberikan semuanya pada si supir. Tidak ada jalan lain, aku hanya bias berterus terang,” Saya nggak ga ada uang lagi, Bang... maaf saya kira bayarnya Cuma 2000...”
Raut wajahnya memerah marah. Aku bak melihat dua tanduk tumbuh di atas kepalanya yang semi botak. “Ya udah, lain kali jangan kayak gini lagi, Neng !”
Aku lega mendengarnya meski nada marahnya tidak juga hilang. Aku mengucap terima kasih padanya.
Sesuai rencanaku pula, aku memanggil ojek yang sedang mangkal. Tanpa di sangka, ternyata ojek yang kunaikki melewati angkot si supir tadi.
Ini yang paling mengenaskan, bayangakan si supir menyerapahiku dari dalam angkotnya di depan umum.
” Naik angkot nggak bisa bayar, ini malah naik ojek! SETAN LO !”
Jleb! Aku tersentak. Bagai disambar petri rasanya mendapat julukan seperti itu. tak bisa aku berkata apa-apa, tak pula bisa aku berbuat apa-apa, sungguh, kalau aku punya uang, kalau saja uangku cukup, aku pasti membayar penuh ongkosnya. Alasqnku naik ojek juga Cuma satu, aku tidak punya uang, ojek ini pun akan aku bayar di rumah... Ya Allah.. apa aku telah melakukan besar... ?
Rasa bersalahku masih tidak juga hilang meski sudah berada di rumah. Kata kata sang supir masih terngiang di telingaku.
Sepertinya aku telah melakukan kesalahan besar... Ya, mengapa aku begitu tega mengurangi jatah pendapatan seorang supir angkot yang kondisi ekonominya tidak lebih baik dari ekonomi keluargaku hanya karena sebuah novel...., hhh... aku jadi teringat akan perkataan ibuku, di dalam harta kita, ada harta fakir miskin, kita juga tidak boleh mengurangi bayaran dari yang seharusnya. Ibuku itu, beliau selalu baik terhadap siapapu meski terkadang emosinya meledak-ledak, beliau lebih suka melebihakn bayaran pada tukang becak, tukang ojek, yah... setidaknya sesuai tarif lah... tidak seperti aku yang suka menawar nawar..., kadang juga sering menguranginya, karena menurutku harganya terlalu mahal. Tapi baru kali ii aku di teriaki seperti itu, padaha jelas-jelas aku jujur.
Hmmm... aku benar-benar merasa bersalah.
Aku akhirnya menceritakan hal itu pada khadimat di rumahku. Mereka sudah seperti saudara buatku. Aku meminta tolong dantar ke perapatan tempat ku turun tadi untuk membayar kekuranganku dan meminta maaf serta menjelaskan keadaanku sebenarnya, siapa tahu angkotnya masih nge tem di sana. Dia pun bersedia mengantarku.
Sayang, saat aku ke sana, si supir angkot sudah pergi, menurut teman-temannya di sana, Ia memang marah marah tadi dan membicarakan kejadian tadi sambil sewot. Aduh.. jadi tambah tidak enak, masak karena sebuah novel aku jadi membuat orang lain marah. Aku akhirnya menitipkan ongkos kekuranganku tadi dan meminta tolong agar permintaan maafku disampaikan padanya. Supir supir angkot itu sangat baik, mereka menyapaku dengan baik, dan mereka juga berjanji akan segera memberikan uang yang aku titipkan juga menyampaikan permintaan maafku padanya. Mereka tidak seperti dugaanku, hhh... aku memang suka men-judge sesuatu by it’s cover.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar